Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) meminta FIFA dan UEFA untuk memberikan hukuman setimpal terhadap siapa pun yang terbukti melakukan pelecehan rasisme terhadap Vinicius Junior. Insiden ini terjadi saat Real Madrid menghadapi Benfica dalam pertandingan Liga Champions pada Selasa lalu.

Vinicius menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, memanggilnya “monyet” setelah mencetak satu-satunya gol dalam laga tersebut. CBF menekankan pentingnya tindakan cepat dan tegas, termasuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan mempertimbangkan kesaksian korban serta saksi di lapangan.
CBF menyatakan bahwa mereka mengirim permintaan resmi kepada UEFA agar insiden ini diusut secara tuntas dan pihak yang terbukti bersalah dijatuhi hukuman setimpal. Pernyataan ini menegaskan sikap Brasil yang menolak segala bentuk rasisme dalam sepak bola.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
UEFA dan Real Madrid Tindak Lanjut Insiden
UEFA telah membuka penyelidikan resmi terkait tuduhan tersebut. Protokol anti-rasisme langsung diaktifkan oleh wasit, yang sempat menghentikan pertandingan selama 10 menit untuk menangani situasi.
Sementara itu, Real Madrid juga ikut mengambil langkah tegas dengan menyerahkan semua bukti yang tersedia kepada UEFA. Klub menekankan bahwa insiden rasisme ini tidak dapat diterima dan harus ditindak sesuai regulasi.
Pihak Benfica membantah tuduhan, dan Prestianni terlihat menutupi mulutnya dengan jersey saat insiden. Klub Portugal mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “kampanye fitnah” terhadap pemain muda Argentina itu, tetapi penyelidikan tetap berjalan.
Baca Juga: Vinicius Jr Jadi Korban Rasisme di Stadion Albacete
Dukungan Pemain dan Pernyataan FIFA

Beberapa rekan Vinicius, termasuk Kylian Mbappe, memberikan dukungan langsung. Mbappe mengatakan ia mendengar Prestianni menyebut Vinicius sebagai “monyet” sebanyak lima kali selama pertandingan.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan rasa terkejut dan sedihnya atas dugaan insiden rasisme ini. FIFA sendiri telah memperbarui kode disiplin mereka tahun lalu, termasuk Pasal 15 dan 30, untuk lebih tegas dalam menanggulangi pelecehan rasial dan diskriminasi dalam sepak bola.
Perubahan tersebut mencakup peningkatan denda maksimum hingga lima juta franc Swiss, serta potensi larangan bermain hingga 10 pertandingan bagi pemain yang terbukti melakukan pelecehan rasial.
Potensi Sanksi bagi Pelaku dan Langkah Selanjutnya
Jika terbukti bersalah, Prestianni menghadapi sanksi berat berdasarkan kode disiplin UEFA. Ini menjadi sinyal tegas bahwa pelecehan rasial dalam sepak bola akan mendapat hukuman serius.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kesadaran dan pendidikan anti-rasisme di semua level kompetisi. UEFA dan FIFA berkomitmen memastikan bahwa sepak bola tetap menjadi olahraga yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.
CBF menegaskan bahwa mereka akan terus memantau kasus ini dan mendukung langkah-langkah yang diambil oleh otoritas sepak bola internasional untuk menegakkan keadilan. Langkah tegas diharapkan bisa memberi efek jera dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di goalarab.net.
